Lesplang SMK Negeri 2 Batangtoru Bertransformasi Menjadi Taman Anggrek Hutan yang Indah

Di tengah keindahan alam yang memukau, SMK Negeri 2 Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengalami transformasi yang menarik perhatian. Meski dalam beberapa tahun terakhir kondisi sekolah ini terlihat kurang terawat, sebuah inisiatif untuk mengubahnya menjadi Taman Anggrek Hutan yang indah kini tengah digagas. Namun, di balik upaya transformasi ini, terdapat sejumlah permasalahan serius yang perlu disoroti.
Kondisi Terkini SMK Negeri 2 Batangtoru
SMK Negeri 2 Batangtoru saat ini menghadapi tantangan besar dalam hal pemeliharaan fasilitas. Banyak aspek yang menunjukkan ketidakberesan, mulai dari cat dinding yang mengelupas, atap asbes yang bocor, hingga bangku belajar yang rusak. Keadaan ini cukup memprihatinkan, terutama mengingat adanya alokasi dana yang cukup besar untuk perawatan sekolah.
Penyelidikan oleh Aliansi Wartawan dan NGO
Sejumlah wartawan dan Lembaga Independen Pengawasan Pejabat dan Aparatur Negara (LIPPAN SUMUT) melakukan investigasi setelah mendengar laporan dari Hamid Sulton Harahap, seorang warga Desa Sipenggeng. Investigasi yang dilakukan pada Rabu, 10 Juni 2026, mengungkapkan bahwa perawatan sekolah tidak berjalan baik, sementara Kepala SMK Negeri 2 Batangtoru tidak berada di tempat saat dilakukan pengecekan.
Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa buku paket yang dipinjamkan kepada mereka tidak diperbolehkan dibawa pulang. Hal ini disebabkan kurangnya jumlah buku di sekolah, sehingga siswa tidak memiliki akses untuk belajar di rumah.
Permasalahan Buku Paket dan Fasilitas
Seorang siswa mengungkapkan, “Kami tidak bisa membawa pulang buku paket, padahal itu sangat penting untuk mengulang pelajaran di malam hari. Kami terpaksa harus mengembalikannya ke sekolah.” Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya akses terhadap materi pembelajaran di luar jam sekolah.
Seorang guru yang ingin identitasnya dirahasiakan juga mempertegas pernyataan siswa tersebut. Ia menambahkan bahwa selama kepemimpinan Erikson Benyamin Marnaek Sihombing sebagai Kepala Sekolah, hanya satu kali cat dinding dilakukan dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, persediaan spidol untuk kegiatan belajar mengajar juga sangat minim, yakni hanya satu spidol per semester yang harus dibeli oleh guru jika kehabisan.
Alokasi Dana untuk Perawatan
M. Hutagalung, Kepala Investigasi LIPPAN SUMUT, menyampaikan bahwa pada tahun 2023 hingga 2025, terdapat dana perawatan yang dialokasikan untuk SMK Negeri 2 Batangtoru sebesar Rp 574.735.000. Selain itu, ada juga anggaran untuk pengembangan perpustakaan yang mencapai Rp 259.760.000. Namun, kondisi fisik sekolah yang di lapangan tidak mencerminkan adanya penggunaan dana tersebut secara efektif.
- Pengecatan sekolah hanya dilakukan sekali dalam tiga tahun.
- Atap asbes banyak yang rusak dan bocor.
- Bangku siswa dalam kondisi rusak.
- Buku paket tidak cukup untuk semua siswa.
- Spidol yang tersedia sangat terbatas.
Taman Anggrek Hutan: Harapan di Tengah Permasalahan
Di tengah berbagai kejanggalan yang terjadi di SMK Negeri 2 Batangtoru, muncul rencana untuk mengubah sekolah ini menjadi Taman Anggrek Hutan yang indah. Namun, pertanyaan besar pun muncul: ke mana perginya dana yang seharusnya digunakan untuk perawatan dan pengembangan fasilitas? Ini menjadi sorotan penting bagi masyarakat dan pihak yang berwenang.
Harapan untuk Penegakan Hukum
Sulton Harahap dan M. Hutagalung berharap agar penegak hukum dapat menyelidiki informasi yang muncul mengenai SMK Negeri 2 Batangtoru. Mereka meminta agar jika ada bukti-bukti yang cukup, langkah hukum dapat segera diambil untuk menyelamatkan dana negara yang digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya.
“Jika dalam waktu dekat tidak ada tanda-tanda bahwa Kepala SMK Negeri 2 Batangtoru akan diproses hukum terkait dugaan korupsi, maka kami akan mengambil langkah untuk melaporkan secara resmi kepada penegak hukum,” tegas Sulton.
Peran Komite Sekolah
Ponidi, Ketua Komite Sekolah SMK Negeri 2 Batangtoru, menyatakan bahwa ia tidak memiliki informasi mengenai penggunaan dana yang ada di sekolah. Ia juga terkejut dengan isu penjualan forklift yang telah dipreteli. “Saya belum pernah membubuhkan tanda tangan untuk pencairan dana yang dilakukan oleh Benyamin,” ujarnya.
Transformasi menuju Taman Anggrek Hutan di SMK Negeri 2 Batangtoru adalah langkah yang sangat positif. Namun, untuk mencapai visi tersebut, jelas diperlukan keterbukaan dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana serta fasilitas sekolah. Tanpa adanya perubahan signifikan dalam manajemen, harapan akan terciptanya lingkungan belajar yang ideal akan sulit terwujud.
Dengan segala permasalahan yang ada, tantangan untuk mengubah SMK Negeri 2 Batangtoru menjadi taman anggrek hutan yang indah bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerjasama dari semua pihak, mulai dari siswa, guru, komite sekolah, hingga pemerintah untuk memastikan bahwa visi ini dapat diwujudkan secara nyata.
Kesadaran akan pentingnya perawatan dan pengembangan fasilitas pendidikan harus terus ditingkatkan. Hanya dengan demikian, mimpi untuk menjadikan SMK Negeri 2 Batangtoru sebagai Taman Anggrek Hutan yang indah dapat terwujud, memberikan manfaat bagi siswa dan masyarakat sekitar.

